Tradisi Bakdo Sapi, ratusan ekor sapi dikalungi ketupat dan diarak keliling kampung
Ratusan hewan ternak sapi milik warga di lereng sisi timur Gunung Merapi, tepatnya di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah diarak keliling kampung. Selain sapi, warga juga mengarak gunungan raksasa yang terbuat dari hasil bumi, seperti sayur mayur, buah-buahan dan ketela serta padi dan jagung.
Elshinta.com - Ratusan hewan ternak sapi milik warga di lereng sisi timur Gunung Merapi, tepatnya di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah diarak keliling kampung. Selain sapi, warga juga mengarak gunungan raksasa yang terbuat dari hasil bumi, seperti sayur mayur, buah-buahan dan ketela serta padi dan jagung.
Sebelum melakukan arak arakan, terlebih dahulu warga melakukan ritual kenduri di jalan utama desa setempat.
Setelah melakukan ritual kenduri, sapi yang akan diarak keliling kampung kemudian dikalungi ketupat pada lehernya. Setelah itu diberikan minyak wangi dan disiram air kembang yang sudah didoakan oleh tokoh masyarakat setempat.
Setelah melalui berbagai ritual, hewan ternak sapi milik warga tersebut diarak keliling kampung dengan diringi tarian khas warga lereng Gunung Merapi. Tradisi tersebut oleh warga dinamakan Bakdo Sapi. Dimana sapi sapi tersebut usai diarak, saling maaf maafan, yakni saling mendekatkan sapi satu dengan sapi lainnya oleh sang pemilik .
Tokoh masyarakat Desa Sruni, Jaman mengatakan, lebaran sapi pada bulan syawalan ini, merupakan tradisi turun temurun sejak nenek moyang pada jaman dahulu, kemudian tradisi ini dilakukan warga setiap hari ke 8 pada bulan Syawal.
“Tradisi ini menunjukan rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan banyak rejeki melalui hasil pertanian dan peternakan,” kata Jaman seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sarwoto, Senin (7/4).
Jaman menyampaikan, peternakan merupakan hal terpenting bagi kehidupan warga di sisi lereng Gunung Merapi, sebab, peternakan hewan sapi bagian dari penopang kehidupan ekonomi warga.
“Dari peternakan kita dapat menghasilkan pupuk, daging dan anak dari induk sapi tersebut. Pupuk itu bisa buat tanaman, karena di sini mayoritas petani,” jelas dia.
Jaman menambahkan, tujuan hewan sapi tersebut diarak keliling kampung kemudian bertemu dengan sapi yang lainnya sehingga dapat berkembang biak.
“Kalau bertemu dengan sapi yang lainnya nanti dapat menimbulkan birahi, setelah itu sapi bisa bunting dan menghasilkan anak sapi,” tambahnya.
Warga setempat, Eko Raharjo mengatakan, ini merupakan peninggalan dari nenek moyang yang setiap syawalan melakukan bakdo sapi memberikan ketupat pada bagian leher dan memberikan minyak wangi.
“Sudah tradisi, sebelumnya sapi dimandikan dikalungkan ketupat lalu diberikan minyak wangi pada bagian kepala sapi. Ya sudah tradisi sejak dulu,” katanya.
Menurut warga lainnya, Anto mengutarakan, tradisi syawalan mengarak hewan sapi keliling kampung perlu dilestarikan, sehingga para peternak dan juga petani kedepan dapat lebih makmur dan sejahtera.